Diberdayakan oleh Blogger.

XII-PH SMKN 62

XII-PH SMKN 62
@Jati Jajar <3

Pengikut

it's me..

Selasa, 22 Oktober 2013

Love Capsule

Aku berjalan menelusuri pertokoan di dalam Grand Indonesia. Mataku tak henti-hentinya bergeriliya melihat pakaian-pakaian yang terpampang rapi dalam manekin-manekin butik. Inilah
hal yang biasa kulakukan jika aku memiliki banyak waktu luang. Pergi ke pusat-pusat perbelanjaan, berkeliling sendirian dan jika menemukan barang yang bagus maka aku akan membelinya.

Namaku adalah Febriana. Aku tinggal di kawasan Depok bersama Kakakku. Sejak kecil, kami tinggal bersama kakek dan Nenek. Ketika Kakakku
dewasa, barulah aku tinggal bersamanya. Jarak usiaku
dan Kakku terbilang cukup jauh, usiaku 19 tahun dan Kakakku 27 tahun. Sehari-harinya Kakak bekerja di perusahaan multinasional keluarga kami. Ayah dan
Ibu berada di luar negeri juga mengurus
perusahaan kami. Di apartment yang cukup untuk menampung satu grup berisi 7 member beserta managernya, hanya aku seorang yang paling sering berada di sana, membosankan bukan? Untuk itulah aku sering berkeliling tempat ramai sendirian.

Selain berkeliling di tempat ramai, aku juga mempunyai hobby yang bisa dibilang cukup aneh. Bahkan Jessica, sahabat terdekatku sekalipun mengatakan
hobby itu sangat aneh dan aku melakukannya sejak aku duduk di kelas 2 SMA. Barang-barang yang aku beli
saat berkeliling tidak hanya barang-barang wanita, tapi juga barang-barang pria seperti kaos, sneakers, aksesoris dan sebagainya. Itulah hobby anehku.

Seperti yang kulakukan saat ini. Mataku menangkap sepasang sneakers yang dipajang sebuah toko. Tanpa ragu, aku masuk ke dalam. Ku perhatikan tiap detail sneakers tersebut dan aku jatuh cinta padanya.

“Ehm mba', aku mau sepatu ini,bisa ambilkan aku ukuran 42?”

“42? Sepertinya itu terlalu besar untuk kakimu mbak?” pelayan toko bertanya dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman. “Ah! untuk kekasihmu kan?” lanjutnya ikut tersenyum.

“Bukan, ini untuk koleksiku” jawabku.

“Kau mengoleksi sepatu pria?” tanyanya heran.

“Yap, seperti yang kau dengar” masih dengan senyumanku “bisa kau ambilkan sepatunya?”

“Oh, baiklah akan saya ambilkan” lalu pelayan itu meninggalkan aku.
Aku beranjak menuju kasir dan menyelesaikan pembayaran.

KRIIING KRIIIIING KRIIIING KRIIIING
Handphone-ku berdering. Jessica tertera di layar ponselku.
“Halo jes”
“Ebii, kamu ada dimana?”
“Aku ada di G I”
“Bisa kita bertemu? Aku akan menunggumu di tempat biasa. Aku sedang bosan”
“Baiklah”
“Aku berangkat sekarang ya”
“Oke”
“ttuuut ttuut ttuuut”

“Terima Kasih, datang kembali ya” ujar pelayan toko sambil memberikan barang belanjaanku yang aku jawab dengan anggukkan ku. Aku bergegas ke mobilku dan memacunya menuju toko roti di kawasan Sarinah.

Setelah sekitar 15 menit berkendara. Aku memarkir mobilku dan bergegas masuk ke dalam.

CKLIING CKLIING
Suara pintu toko berbunyi ketika aku masuk ke dalam. Aku melihat sosok Nana yang tengah asik memainkan ponselnya.

“PLAAAK” aku memukul kepalanya dengan sepenuh hatiku.
“YAK! Aduuuuhh!!!” teriaknya sambil memegangi kepalanya yang kupukul.

“Ada apa memanggilku?” tanyaku langsung yang kinitelah duduk di hadapannya.

“Sudah kukatakan kan? Aku b o s a n” jawabnya dengan mimik wajah yang di dramatisir.

“Menggangguku saja”

“Apa? Mengganggumu?” ujarnya seraya melihat paperbag yang kubawa. “Ah kau sedang berbelanja ya?” tanyanya.

Aku hanya menggelengkan kepala.

“Lalu?” lanjutnya. “AH!!! Hobby anehmu itu lagi pasti ya? Benar-benar gadis aneh” ujarnya seraya
menggelengkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya. Lalu dia melipat kedua tangannya di meja dan menatapku lekat-lekat.
“Eh bi, dengar. Aku tahu uang bukanlah masalah untukmu, tapi apakah normal seorang perempuan membeli barang barang laki-laki? Mau kau apakan barang-barang itu? Bahkan sejak SMA kau tidak memiliki kekasih untuk kau berikan hadiah. Tidakkah kau lihat kotak besar di kamarmu itu sudah terisi penuh dengan semua koleksimu? Bukankah itu berlebihan?”

“Aku bisa memberikan barang itu pada Kak fio” jawabku datar.

“Kau jelas tau bahwa barang-barang tersebut berbeda ukuran dengan Kak Alifio dan jelas bukan gayanya” lanjutnya lagi.

“Entahlah aku hanya mengikuti hasratku” ujarku.

“Selalu jawaban itu, yasudah ayo kita habiskan malam panjang ini!” serunya dan menggandeng tanganku pergi.

xxx

CKLEK
Aku membuka pintu kamarku megedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. “Huuuh…” aku mendengus lemah
saat mataku terhenti pada sebuah kotak persegi panjang berukuran 1 meter x 0.5 meter dan setinggi pahaku itu, kotak yang dimaksud oleh Jesiica dan benar…
kotak yang terisi oleh koleksi hobby ‘aneh’ku.
Sebenarnya aku punya alasan kenapa aku menyimpan barang-barang ini, aku ingin memiliki kekasih yang bisa memakai barang-barang ini nantinya. Aku berjalan
mendekat ke arah kotak itu dan membukanya. Aku mengeluarkan semua barang yang ada di dalamnya. Kau mau tau apa saja isi kotaknya? Aku akan berbaik hati menyebutkannya. Ada banyak kaos, celana, kemeja casual dengan berbagai macam warna dan model, jam tangan, beberapa pasang sepatu yang baru saja kutambah koleksinya dan aksesoris. Yang anehnya
tanpa kusadari semuanya memiliki ukuran yang sama. Aku tidak pernah dengan sengaja menyebutkan ukuran yang sama setiap kali aku membeli sesuatu, itu terjadi begitu saja.

CKLEK
Pintu kamarku terbuka. Aku menoleh ke arah pintu.
Sosok Kak Alifio sedang berdiri mengamatiku seraya tersenyum ketika aku melihatnya.
“Kapan dia datang?” kataku dalam hati.
“Ah aku bukan kakak yang baik ya? Sepertinya Adikku ini sangaaaat kesepian, sampai-sampai dia mengumpulkan banyak sekali barang barang pria” goda Kak fio sembari menghampiriku.

“Eiyyy kak! Jangan menggodaku!” jawabku ketus.

“Lalu kalau tidak kesepian, alasan apa yang akan kau berikan untuk semua ini?” tanyanya. “untukku? Ini bahkan bukan ukuranku” lanjutnya lagi saat mencoba
salah satu celana jeans.
“YAAAAK KAKAAAAK!!!!! JANGAAAAN!!! LEPASKAN CELANA ITU”
aku berteriak kaget setengah mati dan langsung menarik celana itu dari kakinya sampai…
“GABRUKKKK”. Kak Fio kehilangan keseimbangan saat aku menarik celana yang dicobanya.

“ADUDUUUH! ! Kenapa kau ini” teriaknya kepadaku. Seketika aku langsung
bertekuk lutut di hadapan Kak Fio meminta maaf.
“Aku minta maaf deh. Sungguh aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja aku sangat terkejut
karena kak memakai celana itu” sesalku.

“Aish kau ini benar-benar ya. Yasudah tak apa kali ini Kakak maafkan tapi lain kali awas kau ya”

“Iya kakak”

“Lagian untuk apa sih semua barang ini?”
“Tidak apa-apa kak, hanya saja aku ingin membeli barang-barang ini. Setelah membelinya aku merasa bahagia” jawabku menerawang.

“Eh? Dasar wanita aneh” komentar Kakak Fio.

“Oh iya kak, aku akan ke Pulau Tidung besok”

“Mau apa kau ke sana?”

“Aku Aku ingin menyegarkan pikiranku, bolehkah?” izinku padanya.

“Asalkau bisa menjaga diri itu boleh saja” jawabnya.

“Yasudah kakak pulang hanya mau mengambil pakaian. Sebelum berangkat besok kau mampirlah dulu ke
kantorku, bisa?”

“Bisa kak”

“Selamat malam” pamitnya sambil mengelus kepalaku.

“Selamat malam kak”
Aku merapikan kembali koleksi hobby ‘aneh’ku itu ke dalam tempatnya. Setelah itu aku packing barang- barang yang akan kubawa besok dan kemudian aku pergi mandi.

xxx

Aku bangun tepat pukul 05.00 pagi. Setelah bersiap dan sarapan akupun bergegas menuju kantor Kakak di kawasan Sudirman. Aku berjalan menuju halte bus sambil menghirup udara pagi yang segar. Aku mengedarkan penglihatanku ke setiap sudut jalan, udara pagi ini cukup dingin dan masih sedikit orang yang berlalu lalang di jalan, mungkin karena hari ini adalah hari libur. Dan saat ini hanya ada seorang pria yang
tertidur di halte bus dengan kepala bersandar pada tiang halte di hadapanku. Aku memperhatikannya
sekilas dan berusaha menghiraukannya. Pria itu memakai kaos putih yang ditumpuk dengan hoodie berwarna biru langit yang menutupi kepalanya, celana
jeans panjang, sepasang sneakers klasik dan tas ransel yang cukup besar. Dari penampilannya jelas dia bukanlah seorang gelandangan. Walaupun begitu, tetap
saja sesekali aku melirik ke arahnya. Setelah beberapa saat bus yang aku tunggu datang. Aku bangun dan bersiap masuk ke dalam bus. Saat aku menoleh
kepada pria tadi, aku terlonjak kaget karena entah sejak kapan dia sudah ada di belakangku. Sedikit salah tingkah, akupun bergegas masuk ke bus dan begitupun pria itu.

xxx

“Kakak” panggilku

“Aah ebi,silahkan” jawabnya sambil
mengalihkan pandangannya dari setumpuk kertas di mejanya dan menatapku.
Kak Fio beranjak dari kursinya dan menyuruhku duduk di kursi tamu.

“Sebentar, aku ambil sesuatu dulu”. Kemudian dia terlihat mengambil sebuah kotak dan memberikannya padaku. “Hadiah untukmu” menyodorkan kotak itu
kepadaku.

“Ini apa?” ujarku.
“Buka saja” balasnya.
“Wah kak, ini sangat bagus! Tapi bukankah ini untuk pria?” Kak fio memberikan sebuah gelang handmade terbuat dari kulit sapi berwarna coklat yang ditali temali dengan sangat rapi.
“Anggap saja itu permintaan maafku karena memakai celana itu. Aku membeli itu sewaktu aku di Jogja sebulan yang lalu tapi aku baru sempat memberikannya
padamu sekarang karena aku jarang pulang. Maafkan aku ya yang kurang memperhatikanmu, padahal aku yang
memintamu pindah dari rumah nenek ke tempatku”
“Terima kasih,Aku tidak apa-apa, kakak telah menjagaku dengan sangat baik” ucapku sambil memeluknya.

“Aku harap begitu” Kak fio balas memelukku.

“Yasudah aku berangkat dulu ya kak”

“Ya hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa kabari aku, menegerti?”

“Mengerti kak !”

Aku keluar dari gedung kantor yang cukup megah itu dan langsung menuju Pelabuhan dengan menggunakan taksi. Sesampainya di sana, aku langsung
membeli tiket kapal menuju Pulau Tidung.

xxx

Aku duduk di kursi kereta dekat jendela. 5 menit lagi kapal ini akan berangkat menuju Pulau Tidung dan hampir semua kursi penuh di dek ini.Dari kaca jendela kulihat seorang Pria berlari terengah-engah menuju kapal ini. Tepat sebelum kapal bernagkat, diapun masuk dan sedetik kemudian kereta ini berangkat. Pria itu mengedarkan pandangannya ke penjuru bagian, sepertinya dia sedang mencari kursi kosong. Sekarang pria itu tengah memperhatikanku, aku menatapnya sekilas lalu melihat sekelilingku dan ternyata hanya kursi di sampingku yang kosong. Dia menghampiriku.

“Maaf, apa aku boleh duduk di sini?” dia berkata padaku. Aku menatapnya dan menjawabnya dengan anggukan.

“Terima kasih” ujarnya sambil sedikit
membungkukkan badan. Untuk beberapa saat aku tidak henti-hentinya melirik pria itu. Anehnya aku merasa tidak begitu asing dengannya. Karena rasa penasaranku, aku memberanikan diri untuk melihatnya terang-terangan. Aku menolehkan kepalaku kearahnya dan… “omg!” aku
berteriak kecil. Kepala pria itu mendarat sempurna di bahuku. Rupanya dia tertidur. Aku memiringkan kepalaku untuk melihat wajahnya. Mataku membulat saat menatap wajahnya. Wajah yang mungil, bola mata
bulat yang kini tengah tertidur, hidung mancung dan bibir mungilnya berkolaborasi indah membentuk garis
wajah yang hampir sempurna. Tidak tahu apa yang harus kulakukan, akhirnya aku membiarkan saja pria itu tidur di bahuku.

“Kau sudah bangun?” suara lembut menyapaku saat aku membuka mata. Aku mencari asal suara itu dan ternyata pria itu pemiliknya.

“Uhm..” aku menjawabnya dengan gumaman. Sepertinya dia habis ke toilet, pikirku.
“Ehm, sepertinya tadi aku tertidur di bahumu, maaf ya aku tidak bermaksud begitu” ucapnya seraya kembali duduk di sampingku.

“Ya begitulah, tidak apa-apa” jawabku. Lalu aku teringat lagi akan sosoknya yang tidak asing ini. “Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” aku bertanya
kepadanya. “Sepertinya ini pertemuan pertama kita, memangnya kenapa?”

“Entahlah sepertinya aku pernah melihatmu. Di mana kau tinggal?”

“Aku? Aku baru saja pindah ke Depok sekitar sebulan yang lalu”

“Ah! aku ingat! Kau tadi juga tertidur di halte bus dekat apartment di Depok kan?” aku menyadari bahwa pakaian pria ini dan pria di halte itu sama.

“Eoh? Kau melihatnya ya? Hehehe”
pria itu menggaruk kepalanya.
“Aku memang mudah tertidur apalagi kalau hanya seorang diri. Tadi aku hampir ketinggalan kereta juga karena tertidur. Oh iya perkenalkan, namaku Rianto” ujarnya tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

“Rianto? Kau dari Jawa ya? Aku pikir kau orang Bandung” menyambut uluran tangannya
“Aku baru pindah ke Depok kemarin karena orang tuaku juga ikut pindah ke sini. Bisnis” ungkapnya.
“Oh begitu, namaku Febriana”
“Salam kenal ya” ucapnya sambil tersenyum manis menatapku.

-Rianto POV-


“Salam Kenal. Kulihat kau suka laut ya” aku mengucapkannya sambil tersenyum menatapnya.

“Heh? Kau tahu?” balasnya kaget. Dan kali ini nampaknya dia cukup tertarik dengan pembicaraan ini.

“Aah kebetulan saja” masih dengan senyuman di bibirku.

“Ayah dan ibuku sangat menyukai laut, mereka sering menghabiskan waktu bersama di pantai bahkan sejak pertama kali mereka bertemu tempat itu adalah
pantai.

“Dan kau juga menyukai laut?” tanyaku.

“Ya, aku sangat menyukainya. Aku bisa menghabiskan banyak waktuku hanya untuk duduk di pinggir pantai memandang jauh ke laut yang tampak biru berkilauan”

“Apa sekarang kau akan menuju Pulau Tidung?”

“Begitulah. Kau sendiri mau kemana?”

“Sama sepertimu hahaha”

“Benarkah? Hahaha” dia terkejut dan ikut tertawa bersamaku.

Yaa… setelah perbincangan yang tadi kami menjadi cukup dekat satu sama lain. Aku mengajaknya berlibur
bersama saat di Tidung nanti dan Febriana menyetujuinya. Entah kenapa aku sangat senang bisa bertemu dengan Febriana, hingga senyuman seolah
tidak mau pergi dari bibirku.

xxx

Aku sedang merapikan diriku di depan kaca. Hari ini adalah hari keduaku berada di Tidung. Hari ini aku dan
Febriana sepakat akan menghabiskan waktu bersama. Kami berjanji bertemu di restoran pinggir pantai Tidung yang jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel
kami masing-masing.
Apa yang terjadi? Aku hanya sedang duduk menunggu Febriana tapi hatiku berdegup cukup kencang. Aku memegang dadaku dan mencoba mengatur nafasku.

“Ada apa sih denganku?” ucapku dalam hati. Saat jantung ini belum mau kembali normal, suara lembut menyapaku.
“Haii Rianto” begitulah kedengarannya. Aku mengadahkan kepalaku dan… BINGO! Sosok Febriana muncul di hadapanku. Tampak sangat manis. Tubuhnya terbalut casual blouse tanpa lengan berwarna nude pink sepaha dipadukan dengan short pants berwarna putih dan sandal jepit tipis berhias batu alam.

“Eh Febriana sudah datang“ aku berdiri menyapanya.
“Ayo duduk dulu” aku menyuruhnya duduk. Diapun tersenyum dan duduk di hadapanku.

-Febriana POV-

Dari kejauhan aku melihat sosok Rianto yang tengah duduk menungguku. Aku berhenti sejenak dan memperhatikannya. Dia terlihat sempurna menyatu dengan pemandangan pantai yang indah. Fitted jeans berwarna classic jeans dipasangkan dengan kaos oblong berwarna putih menunjukkan tubuhnya yang kurus namun tinggi itu.
“Wow, he looks good” pikirku. Dan
entah sejak kapan jantungku berdetak lebih cepat dan pipiku terasa panas. Aku menggelengkan kepalaku kasar mencoba mengembalikan pikiranku dan menghirup
nafas panjang. Aku pun menghampirinya.

“Haii Rianto” aku meyapanya. Dia sedang
tertunduk sambil memegangi dadanya.

“Eh Febriana sudah datang, Ayo duduk dulu” dia mengadahkan kepalanya kemudian berdiri dan mempersilakanku
duduk.

“Kau sudah lama menunggu?” tanyaku basa-basi.

“Tidak juga” jawabnya tersenyum.
“Apa yang ingin kau lakukan hari ini?” tanya Rianto kepadaku.
“Sepertinya olah raga air menyenangkan dan kita naik speed boat ya?” pintaku padanya.
“Kedengarannya bagus, ayo kita lakukan” dia meraih tanganku dan langsung mengajakku ke pantai.

”Degeun degeun degeun degeun” jantungku berdetak sangat kencang ketika tangan Rianto menyentuh tanganku. Ya tuhan ini adalah pertama kalinya seorang pria menggenggam tanganku selain Kak Fio.
“Eh maafkan aku, aku terlalu bersemangat” Rianto menyadari bahwa dia menggenggam tanganku dan melepaskannya. Suasana aneh sesaat menyelimuti kami. Kami menghindari tatapan satu sama lain.
“Wah bagaimana kalau kita naik itu?” Rianto memecahkan keheningan dan menunjuk Flying Fish yang sedang
terbang di atas pantai Tidung.

“Ayooo!” seruku berlari mendahuluinya.

“Yaaaa! Febriana tunggu akuuu!” dia mengejarku dari belakang.
Kamipun berlari menuju tempat permainan air, tertawa bersama dan mengejar satu sama lain. Sepertinya kami melepaskan semua beban dan menikmati hari ini.
Petugas membantu kami berdua memasangkan pelampung. Setelah semua pengaman selesai dipasang kami menaikki balon yang berbentuk seperti ikan pipih
itu dan mengatur posisi kami.

“Akan lebih baik jika kalian saling berpegangan tangan” ujar petugas.

“Eoh?” komentar yang keluar dari mulutku.

“Akan jauh lebih aman” lanjutnya.
“Baiklah” Rianto menjawab dan langsung menggenggam tanganku… lagi. Kini otakku benar-benar tidak bisa bekerja dengan
baik. Selain aku cukup gugup karena aku akan diterbangkan diatas laut, ada tangan Rianto yang menggenggam tanganku saat ini. Dan permainanpun
dimulai.
“WAAAAAAAA!!!” aku berteriak cukup kencang ketika balon kami naik turun berulang kali ke udara dan kemudian menyentuh permukaan air. Badan kami juga ikut bergerak ke kanan dan kiri.

“HAHAHA, MENYENANGKAN BUKAN?” Rianto berteriak kepadaku. Kami harus berteriak agar suara kami terdengar, karena suara angin dan mesin speed
boat yang cukup kencang.
“TAPI INI CUKUP MENEGANGKAN” kataku.
“TENANGLAH, TIDAK AKAN KENAPA-KENAPA” teriaknya menenangkanku.
Apa ini hanya perasaanku,
tapi sepertinya Rianto mengeratkan genggamannya padaku. Lucunya tubuhku ini menerima perlakuannya padaku.

Hari ini terasa sangat menyenangkan, aku dan Rianto tak henti-hentinya melakukan aktivitas yang membuat
kami merasa senang. Bercanda, berkejar-kejaran, berfoto bersama bahkan membangun istana pasir bersama. Tidak terasa senja sudah menyapa kami,
suasana pantai pun sudah tidak seramai tadi. Kami duduk di atas pasir putih ini sambil menatap jauh ke langit senja. Diam cukup lama menyelimuti kami.
“Rianto, terima kasih ya untuk hari ini, aku senang sekali” aku memecah keheningan di antara kami.

“Sama,akupun juga senang” dia tersenyum menatapku. Tiap kali senyumannya itu muncul,
bibirkupun seperti tersihir untuk ikut tersenyum.

“Apa besok kau mau melakukan hal lain bersamaku lagi?” ajaknya.

“Tentu” aku menganggukan kepalaku bahagia.

“Baiklah, tujuan kita besok adalah pulau di dekat tidung, setelah itu kita bisa makan seafood di pasar dekat pantai, kau mau?”
“Mauuu” aku menyetujui idenya. Sepertinya menyenangkan pergi ke tempat-tempat itu bersamanya.

“Ayo kita pulang. Besokkan kita akan melakukan hal seru lagi, kau harus istirahat. Ayo aku akan mengantarmu ke Hotel”

“Tidak usah Rianto, aku bisa pulang ke Hotel sendiri” tolakku secara halus.

“Tidak apa, ayo. Oh iya berhentilah memanggilku Rianto. Cukup Yanto” katanya sambil mendorong tubuhku bergerak maju.

-Author POV-

Singkat cerita, malam itu Febriana dan Rianto merasa sangat bahagia. Senyum tak hentinya lepas dari wajah mereka. Mereka sedang tenggelam dalam rasa cinta yang mulai tumbuh tanpa mereka sadari. Masing-masing sedang membayangkan hal seru apa lagi yang akan mereka lakukan besok.

xxx

-Rianto POV-


Aku duduk di lobby hotel tempat Febriana menginap dan menunggunya selesai bersiap. Hatiku tidak sabar
menunggu kedatangannya.
“Padahal aku kan hanya akan berjalan-jalan biasanya dengannya, tapi kenapa
gugupnya seperti aku akan melakukan dating dengannya” pikirku.
Sesaat setelah pikiranku itu hilang, Febriana datang menghampiriku.

“So gorgeous, always” kataku dalam hati saat menatapnya.

“Kau sudah siap?” tanyaku.

“Seperti yang kau lihat”

“Ayo berangkat”


-Author POV-

“Kau ingin membeli sesuatu?” tanya Rianto kepada Febriana.
“Entahlah, mungkin nanti kalau ada sesuatu yang bagus” jawab Febriana tersenyum.

“Yasudah ayo kita jalan-jalan dulu” kali ini tanpa ragu Rianto menggandeng tangan Rianto. Sadar bahwa Febriana tampak salah tingkah Rianto memberikan alasan
“Ini agar kau tidak hilang di tengah keramaian” jelas Rianto sambil mengangkat tangan mereka.
Tanpa saling menyadari mereka berdua sama-sama tersipu.
Dikejauhan samar-samar terdengar suara nyanyian, Febriana menoleh ke kanan dan ke kiri mencari asal suara tersebut.

“Kau mencari sesuatu?” Rianto menyadari tingkah Febriana.

“Bukan, aku hanya sedang mencari asal suara nyanyian itu, kau mendengarnya?” tanya Febriana bingung.

“Lucu sekali tingkahnya ini” Rianto bergumam dalam hati.

"Iya aku mendengarnya. Sepertinya aku melihat sekumpulan orang di depan sana mungkin dari sana asalnya. Kau mau melihatnya?”

“Ayo!” seru Febriana bersemangat.
Sekumpulan orang tengah menonton pertunjukkan musisi jalanan Tidung. Sesorang tengah menyanyikan lagu-lagu romantis dengan alunan gitar akustiknya.
Pemuda itu telah selesai menyanyikan lagunya dan tepuk tangan dari penontonpun terdengar riuh. Begitu
juga dengan Febriana,dia tampak sumringah melihat penampilan pemuda tadi.
“Terima Kasih, Terima Kasih” kata pemuda itu sambil membungkukkan badannya.
“Selanjutnya aku ingin beristirahat dan selagi aku beristirahat, adakah diantara kalian yang ingin menyanyikan sebuah lagu? Aku dengan senang hati akan mempersilahkannya maju ke depan” katanya ramah.
“Aku mau…” seseorang mengajukan dirinya. Dan orang itu tidak lain adalah Rianto. Febriana hanya terpaku bingung ketika Rianto mengangkat tangannya. Namun belum sempat ia tersadar sepenuhnya Rianto telah membawa dirinya maju ke depan.

“Wah, kita mendapat seorang sukarelawan” kata pemuda itu menyambut Rianto.
“Rianto, apa yang kau pikirkan? Memangnya kau bisa menyanyi?” tanya Febriana cemas.
“Kita lihat nanti oke?” jawab Rianto. “Sekarang tugasmu adalah berdiri di hadapanku dan perhatikan aku” lanjutnya sambil menggenggam bahu Febriana

“Nah siapa namamu?” tanya pemuda tadi.
“Rianto”
“Oh! Kau bukan orang sini ya?”
“Bukan hehe”
“Baiklah, silahkan dimulai”
“Pertama-tama saya mau bilang kalau lagu ini akan saya persembahkan untuk seseorang yang tidak sengaja kukenal karena dia melihatku tertidur sembarangan dua kali haha” kata Rianto tertawa dan kemudian dia mulai memetik gitarnya.

Febriana tertegun mendengar lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Rianto.
“Ini, lagu cinta kan?” pikir Febriana.
Febriana mencerna makna demi makna dari lagu tersebut.

(Will the day I hold her hand ever come?)

(Will the day I kiss her above her closed eyes also come?)…

(Hello hello please give me a chance)

(Hello Hello I don’t know how you feel right now)

(Who knows? Two of us might be destiny)


Tenggorokan Febriana terasa kering saat lirik lagu ini terlontar dari mulut Rianto, tapi bagian tubuh Febriana bereaksi lain. Matanya terlihat berbinar, senyum simpul terulas di bibirnya dan semburat merah muda tampak menghias pipinya. Di sisi lain, Rianto yang tengah bernyanyi dan memetik gitarnya tidak hentinya
memandang Febriana di hadapannya. Rianto kini tengah berusaha menyampaikan perasaannya kepada Febriana.

(Hello, the times I spent by your side)

(Can no more compare to any other happiness)

(I can’t express myself to you)

(My heart wants all of you, never let you go)

(If this is love, I’ll never let you go)

(Who knows? The two of us)

Hello Hello


Rianto mengakhiri lagunya dengan kemampuan rapping-nya. Sorak-sorai penonton menyambutnya dengan penuh
antusias. Rianto membungkukkan badannya untuk seraya berterima kasih atas antusias penonton. Febriana mengacungkan dua jempolnya kepada Rianto saat dia
menatapnya senang dan menjawabnya dengan anggukan riang dan senyum yang seolah tiada habisnya itu.

“Aku tidak tau kalau kau bisa bernyanyi sebagus itu” kata Febriana sambil menikmati es krim di tangannya.
“Akupun juga tidak tau, biasanya tidak sebagus itu haha”
“Eiy jadi kau mulai sombong ya?”
“Ahaha aku hanya bercanda, lagipula bukan itu maksudku. Mungkin aku bernyanyi berbeda dari biasanya karena tadi aku menyanyikannya untuk seseorang” jawab Rianto entah polos entah sengaja agar Febriana menyadarinya.
“Hehehe” Seolah dia tau maksud Rianto, Febriana tidak tau harus menjawab apa.

“Bagaimana kalau sepulang nanti kita mampir lagi ke pantai?” ajak Rianto.

“Uhm..” tanda setuju Febriana

xxx

Sekarang keduanya tengah menikmati angin sore pantai yang berhembus lembut menerpa wajah mereka. Mereka duduk di pinggir pantai dalam diam, tenggelam
bersama isi pikiran mereka masing-masing.

-Febriana POV-

“Kenapa dia diam saja sih? Apa yang sedang dia pikirkan? Diam seperti ini malah membuat degup jantungku tak beraturan begini. Ah! Ada apa sih
denganku? Apa mungkin aku menyukainya? Tapi aku baru mengenalnya 3 hari yang lalu. Tapi cinta tidak mengenal waktu kan? Jadi apa aku boleh berharap?”

-Rianto POV-

“Sudah senja ya… Kuharap matahari tidak akan buru- buru pulang ke peraduannya. Aku masih ingin menikmati
sisa hari ini bersama Febriana. Aku ingin tau apa yang sedang dia pikirkan, tentangku… Aku rasa aku menyukainya, benar-benar menyukainya. Bahkan aku
merasa aku bukan aku yang biasanya. Tapi aku menyukainya…”

-Author POV-

“Febriana!” Rianto tiba-tiba mengejutkan.
Febriana yang terkejut karena tiba-tiba Rianto memanggil namanya di tengah kesunyian mereka berdua memegangi dadanya dan menatap Rianto kesal

“Hahaha kau kaget ya?”

“Huh menurutmu?” dengus Febriana kesal.
“Hahaha maaf,maaf. Memangnya apa yang kau pikirkan sampai sampai kau diam bengong begitu? haha”
“Ah, bukan. Ga ada apa apa kok” jawab Febriana salah tingkah.

“Kalau aku ada” lanjut Rianto.

“Eoh?”

“Aku sedang memikirkan bagaimana caranya aku menjelaskan kepadamu bahwa lagu yang tadi aku nyanyikan untukmu itu adalah perasaanku yang
sesungguhnya. Tapi aku bingung bagaimana caranya menyampaikannya padamu” ujar Rianto.

“Ehm.. Yanto… bukankah sekarang kau sudah mengatakannya padaku?”

“AH!” Rianto menepuk kepalanya “bodohnya aku” pikir Rianto dalam hati. “Padahal aku ingin memikirkan cara
yang keren untuk mengatakannya”

“Hahahaha yanto, kau ini lucu ya” komentar Febriana.
“Aku pikir cara kau mengatakannya cukup keren. Kau mengatakannya begitu saja kepadaku secara tidak sadar. Dari situ aku bisa melihat kejujuranmu” lanjut
Febriana tersenyum menenangkan Rianto yang terlihat gelisah.

“Syukurlah… Jadi, apa aku boleh menyukaimu?” tanya Rianto perlahan tetapi pasti.
“Uh?”
“Aku tau mungkin ini terlalu cepat untuk mengatakan aku suka padamu makanya aku lebih memilih bertanya padamu apa aku boleh menyukaimu, jadi apa jawabanmu?”

“Who knows? Two of us might be destiny” jawab Febriana penuh arti yang membuat wajah Rianto dipenuhi rona bahagia.
“Kau tidak boleh lari ya bi” Rianto menarik Febriana ke dalam dekapannya, sedangkan Febriana terdiam dalam dekapan Rianto. Namun sosok mereka
menciptakan siluet indah di bawah sinar lembayung senja pantai Tidung.

xxx

-Febriana POV-


Aku menatap pantulan diriku dalam pantulan kaca coffee shop, berulang kali merapikan penampilanku. Hari ini aku akan bertemu Yanto setelah dua minggu
sepulangnya kami dari Tidung. Ini pertemuan pertama kami setelah Rianto mengungkapkan perasaannya padaku. Entah kenapa ada dorongan dalam diriku untuk tampil cantik untuknya hari ini dan jantungku berdebar-debar seolah menghitung detik demi detik kedatangannya. Aku tidak bisa bohong bahwa memang aku juga menyukainya, hanya saja aku ingin lebih meyakinkan diriku tentang perasaan ini.

“Maaf apa aku boleh duduk di sini?” seseorang membuyarkan lamunanku. Aku menatap orang tersebut.
“Maaf tidak bisa aku sedang menunggu seseorang dan itu adalah tempatnya” jawabku.
“Kalau begitu ini adalah tempat untukku” lanjutnya seraya duduk di hadapanku.

“Kau cantik hari ini”

“Kau ini mau sampai kapan menggodaku to?”
“Hahaha aku hanya mengulang pembicaraan pertama kita di kapal bi"
“Lalu setelah itu kau ingin tidur lagi dipundakku?”
“Tentu tidak, karena hari ini aku ingin menggenggam tanganmu di sepanjang jalan”
“Jadi hari ini kita ke Cibinong?”
“Betul sekali, ayo kita berangkat”
Di sepanjang perjalanan aku dan Rianto bertukar cerita sepulangnya kami dari Tidung, bisa dibilang seperti saling melepas rindu kami. Satu jam perjalanan tidak terasa lamanya, aku merasa sangat
senang bisa bertemu lagi dengan Rianto dan berada di sisinya.
“Sebenarnya apa yang ingin kau cari sampai kita harus ke Cibinong?” tanyaku penasaran padanya.
“Ehehe sebenarnya tidak ada, saat aku bertanya pada teman jika aku ingin mengajak kencan seseorang tapi aku tidak mau orang itu menyadari bahwa ini adalah kencan kemana aku harus pergi,
temanku menjawab Cibinong” jelasnya yang membuatnya salah tingkah.
Aku tersenyum melihat tingkahnya.
“Aku rasa temanmu benar, ayo kita berkeliling dan aku rasa kita bisa makan sop duren dan kue pancong di sini”
sahutku.
“Ayo” kini tangan Rianto dengan otomatisnya menggandeng tanganku dan tidak ada reaksi penolakkan dari tubuhku ini.
Kami menyusuri pertokoan sepanjang jalan Pemda Cibinong yang cukup ramai karena hari ini akhir pekan. Beginikah rasanya jika kau pergi kencan? Aku
menyukainya. Berjalan bergandengan tangan, saling bercanda, berbagi makanan dan tertawa bersama. Jadi
mungkin aku memang telah menyukai Rianto sepenuhnya.

Kami memasuki sebuah toko yang menjual berbagai macam pakaian pria maupun wanita, mulai dari topi hingga sepatu. Sejenak kami berpisah saat di dalam
toko. Sepertinya Rianto sedang mencoba beberapa pakaian, sedangkan aku memilih berkeliling toko sambil menunggunya. Lagi-lagi aku terperangkap pada hobby
anehku. Kali ini mataku melihat sepasang sneakers pada sebuah manekin.

“Permisi, bisa aku melihat contoh sepatu yang seperti dipakai oleh manekin itu?” aku menghampiri pelayan toko.

“Sebentar mbak, akan saya ambilkan”

“Kau sedang apa?” tanya Rianto yang telah kembali.
“Aku sedang menunggu pelayan toko mengambilkan sepatu”

“Sepatu? Kau ingin membeli sepatu?”

“Sepertinya begitu”

“mbak, ini sepatu yang kau minta” pelayan toko menghampiri kami.

“Eh? Bukan kah ini keluaran xxx xxxxxxx tahun lalu?”

“Benar kak” jawab pelayan toko.

“Ah! Aku mencari sepatu ini kemana-mana. Aku mau sepatu ini ya, tolong ambilkan ukuran 42”

“42?” ulangku terkejut.

“Iya, ukuran kakiku 42. Ada apa?” tanya Rianto

“Ah tidak apa-apa” mungkin hanya kebetulan pikirku. Tapi ini kebetulan yang membuat hatiku sedikit
terguncang.

“Kau jadi membeli sepatu ini juga? Aku rasa ini kurang cocok kalau dipakai oleh wanita. Aku pilihkan yang lain ya!” seru Rianto.
Akupun hanya mengangguk.
“Bagaimana kalau ini?” Rianto menyodorkan sepasang flat shoes cantik dengan tangan kanannya. Mataku
membulat ketika melihat tangan Rianto, bukan karena sepatunya melainkan gelang yang melingkar di tangannya.

“To… gelang itu? Bukankah gelang itu gelang wanita?”

“Ahaha iya. Habisnya aku menyukai modelnya sih, jadi aku membelinya sebelum aku berangkat ke Depok”

“Aku punya pasangannya” ujarku dengan susah payah. Apakah ini kebetulan lagi? Otakku sedikit terganggu kali ini, aku tidak bisa memikirkan hal-hal rasional lagi.

“Benarkah? Kau tau tidak, toko di tempat gelang ini dijual hanya membuat gelang-gelangnya sepasang jadi gelang ini tidak akan kau temukan di manapun.
Saat aku ke toko itu, gelang ini hanya tinggal untuk wanitanya saja dan ternyata pasangannya ada padamu? Kenapa kau membeli gelang pria?”

“Kakakku yang membelikannya untukku”

“Tapi kenapa gelang pria?”

“Karena aku punya hobby yang cukup aneh, uhm to, bisa kita pulang sekarang? Aku sudah letih”
Ok ini mungkin memang hanya kebetulan. Tapi kebetulan ini benar-benar tidak masuk akal dan hanya membuat aku mengharapkan hal-hal aneh.
Aku diam disepanjang perjalan pulang. Otakku kembali berusaha mencerna kebetulan-kebetulan yang ada padaku dan Yanto. Ukuran sepatu itu biasa terjadi, ada berjuta pasang orang yang memiliki ukuran kaki 42. Tapi gelang itu, itu kebetulan yang jarang terjadi terlebih gelang itu hanya ada sepasang dan sama-sama di beli di Jogja dan orang yang membeli pasangan gelang itu saat ini ada di sampingku. Bolehkah?
Bolehkah aku semakin berharap Yanto bukan hanya orang yang aku suka? Tapi memang orang yang tepat untukku?
Kami sudah sampai di parkiran apartmentku.

“Apa kau mau mampir? Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu” tanyaku pada Yanto.

“Sesuatu? Apa itu?”

“Nanti kau juga akan tau, bisakah?”

“Tentu”

Kami berdua keluar dari mobil dan menuju apartmentku.

-Rianto POV-

“Silahkan duduk, tunggu sebentar ya”

Febriana meninggalkanku di ruang tamu dan entah pergi ke mana. Sebenarnya aku cukup bingung kenapa tiba-tiba
dia bertingkah seperti ini. Apa karena gelang ini ya?
Tidak beberapa lama, Febriana kembali dengan membawa kotak yang berukuran cukup besar.
“Kotak apa itu?” tanyaku namun Febriana tidak menjawab apapun. Aku hanya memperhatikan apa yang dilakukannya sekarang.Febriana membuka kotak besar
itu.
“Ini pasangan gelang milikmu kan?”katanya sambil menyodorkan gelang di tangannya kepadaku.

“Iya benar sekali” aku mengamati detil gelang itu.

“Kakakku memberikannya padaku saat dia di Jogja kira-
kira hampir dua bulan yang lalu, waktu yang hampir bersamaan dengan kedatanganmu”

“Dan barang-barang itu?”

“Aku membelinya sendiri dan aku ingin kau mencoba ini” Febriana menyodorkan aku sepasang sepatu.

“Pas sekali” ujarku saat sepatu itu kupakai.

“Karena ukurannya adalah 42, begitu juga dengan sepatu yang lain”

“Kebetulan sekali ya haha”

“Dan sekarang aku ingin kau mencoba semua barang yang ada di kotak ini”

“Hah? Kau bercandakan?”

“Tidak kok, kau bisa memakai kamar itu untuk berganti”

“Baiklah” aku membawa kotak itu ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Febriana.

Sebenarnya aku masih bingung dengan apa yang terjadi, tiba-tiba saja sikapnya jadi aneh dan memintaku untuk memakai semua pakaian ini. Tapi, semua barang-barang ini seukuran dengan ukuranku. Bukankah ini kebetulan yang aneh? Aku menatap diriku di kaca, aku sudah
mengganti pakaianku dengan pakaian yang ada di kotak milih Febriana dan anehnya semuanya pas padaku, mulai dari kaos sampai sepatunya. Aku beranjak keluar
kamar dan menghampiri Febriana.

“Febriana” panggilku

“Astaga!” Febriana terperangah saat menatapku.

“Bagaimana mungkin! Semuanya pas padamu?”

“Seperti yang kau lihat” jawabku. “Tapi sebenarnya ini punya siapa?”

“Semuanya adalah milikku. Aku membeli semua barang- barang itu karena itulah hobbyku” Febriana berhenti sejenak dan sekarang aku melihat matanya mulai
basah.
“Sejak SMA aku suka mengumpulkan barang- barang pria seperti yang kau pakai sekarang dan semua yang ada di kotak itu. ada beberapa hal yang
perlu kau ketahui adalah aku tidak pernah memiliki kekasih seumur hidupku jadi jelas itu bukan barang untuk mantan kekasihku. Kedua, aku hanya mengikuti
kata hatiku saat aku membelinya begitu pula dengan ukurannya. Ketiga, aku bertemu denganmu yang memiliki pasangan gelangku dan yang keempat, semua barang yang aku beli adalah dirimu. Untukmu mungkin ini hanya sebuah kebetulan biasa, tapi tidak untukku, karena barang-barang ini menyimpan harapanku, aku berharap suatu saat bisa memberikan barang-barang ini untuk kekasihku dan kemudian aku bertemu dirimu dan sekarang kau memakai harapanku di hadapanku”

Sekujur tubuhku kaku mendengar ucapan Febriana, mungkin ini memang kebetulan tapi adakah kebetulan yang seperti ini? Ataukah ini yang namanya takdir. Aku
menghampiri Haechan dan memeluknya.

“Maafkan aku, karena aku baru datang sekarang padahal kau sejak lama telah berusaha menemukanku. Sekarang kau bisa memberikannya semuanya kepadaku, karena mulai saat ini aku tidak akan pergi dari sisimu”

“Akhirnya aku menemukanmu” Febriana membalas pelukkanku.
Aku melepaskan pelukkan kami. Aku memegang wajah Febriana dengan kedua tanganku dan mensejajarkan mata kami. Aku menatap lekat manik matanya dan
secara otomatis kepala kami semakin mendekat dan aku mendaratkan bibirku tepat di bibirnya.

“Who knows? Two of us”
aku mengucapkannya disela-sela ciuman pertama kami dan kami tertawa mengingat lirik lagu itu.

_FIN_

Minggu, 20 Oktober 2013

Cetar Membahana

“Cetar Membahana Ala Diknas" 

Tittle : Cetar Membahana Ala Diknas12
Author : Fakhry
Main Cast : All Male Member Diknas12 (especially LaKy : Lambok & Iky)
Genre : Comedy(mungkin), GJ, Aneh, and masih banyaklagi
Length : Oneshoot
Rating : Semuanya boleh(?)
Disclaimer : This FF Is Mine!!! Hasil kerja saya. Pernah di post juga di blog-blog lain, Jadi kalau ada cerita yang mungkin mirip atau sama itu bukan kesalahan saya. Melainkan salah si Alis. Karena ini hanyalah Fiktif belaka. Tapi aku gak ada unsur Plagiat kok di sini.Hehe ^^

Aku mencoba membuat FF Comedy Crispy Garing Super Renyah ini! *Apaan sih?*. Ini FF aku tujukan untuk semua anak Diknas Jadi aku minta maaf sama Readers di sini, kalo dirinya aku siksa!!HAHAHAHA!!
Ini FF terinspirasi dari FF komedi, Awas ada Sule,Spongebob SquarePants*kartun kesayangan Author*
Pada saat Author buat FF ini , Author ditemenin sama MilkTea buatan Author sendiri Lhoo*Curhat*.
FF ini Cuma buat becandaan aja yaa! Jangan dianggep seriuss, Okeh..! Kalo ada typo(s) buang aja ke wajah Author.. -.-

~Happy Reading~ 

Di sebuah rumah, yang terletak di sebuah desa(?),tepatnya desa Suka Rame.Yang terletak di Jl. Suka
Maju, hiduplah 6 orang anak manusia. Yang setiap pagi memiliki kegiatan masing-masing.
Mulai dari yang pertama : 1. Emil : Minum kopi sambil baca koran. 2. Fakhry : Nonton acara demo masak yang ada di TV. 3. LaKy : Main congklak(?). 4. Fajar : Online. Karena dia seorang maniak Online, 24jam tanpa batas! 5. Alis : Masih asik ngebuat pulau(?) di dalem kamarnya,Tepatnya di atas kasur!

“Eh, LaKy, lu pergi ke pasar sana! Beliin gue sembilan bahan pokok a.k.a sembako. Persediaan sembako di sini udah hampir abiss.” Suruh Fakhry yang duduk di sofa sambil nonton demo masaknya mbak Heppy Salma.
“Gak mau ah! Gue kagak biasa belanja ke pasar. Gue kan belanjanya ke Market!!” Sahut Iky yang main congklak.
Ceritanya tuh ke-5 anak manusia di sini berada di dalam satu ruang. Ruang tamu tepatnya.
“Ntu sama aja DongDong!! Market ama pasar ntu sama!!” Jawab Fakhry
“Ya jelas beda dong! Tulisannya aja udah beda. Market = Pasar. Beda quelest.” Sahut Lambok yang duduk di depan ~Lambok(main congklak). Lalu ber-Tos ria with Iky.
“Banyak alesan Lau! Cepet berangkat!! Kalo Lu gak berangkat, gue gak masakin makanan buat Lo!!”Ancem Fakhry
“Gak mau!!” Teriak LaKy bareng.
“Mau gak??” Bales Fakhry sambil melotot.
“Kagak!!” sahut Lambok.
“Ah!! Berisik ah Lu semua!! Gue jadi gak konsen baca
korannya!!” teriak & bentak Emil.
“Diem!!” Teriak LaKy&Fakhry bebarengan. Dan hanya
dengan teriakan itu, si Emil langsung
ciyuut.*iniciyiusslhoo-.-*
“Cepetan pergi sana! Nih duitnya!! Kembaliannya balikin ke gue nanti!” Ucap Fakhry sambil menyerahkan beberapa lembar uang ke Lambok.
“Ntar kalo kita2 kesasar gimana? Kita kan baru
pertama kali datang ke pasar.” Ucap Iky. Si Lambok ngangguk2 tanda setuju..
“Ntar lu ber2 pergi ke halte bus depan gang sono! Trus Lu cari bis tujuan Pasar minggu.” Jawab Fakhry
“Bukan ittu maksud gue. Kalo kita kesasar waktu di pasar gimana?? Pasar kan luasnya seluas jidatnya Emil.” Jelas Iky. *SabarBapakEmil*
“Makanyaa!! Pikir dong pake otak!!*Nunjuk2Lutut*” Bales Fakhry
“Eh!! Otak ntu di sini!!*Nunjuk2siku*” Iky gak mau kalah.
“Au ah!! Stress gue lama2.. Yang kalian tunjukin itu mah otak kalian berdua!! Dimana2 tuh ya, yang namanya otak itu di sinii!!*Nunjuk2Hidung*” Lambok jadi ikutan stress.
“Eh!! Dimana2 tuh ya, setau Fajar, yang namanya otak itu letaknya di sini!!*Nunjuk2Kepala.*” Sahut Fajar gak mau kalah. *Kayaknya,di antara mereka ber3, cuma Fajar yang cukup waras*
“Udah ah!! Kalian berdua tanya aja ama orang di pasar.
Toko yang ngejual Sembako ntu di mana??” Perjelas Fakhry.
“Lhah!! lu kok nanya ke kita2. Kita kan gak tau letak toko sembakonya!.” Sahut Lambok.
“Maksud gue tuh yaa, ELU BERDUA NANYA KE ORANG PASAR, LETAK DARI
TOKO SEMBAKO!! Ihhh!! Gue makan juga Lu lama2.” Si Fakhry mulai kesel.
“Masa’ gue harus nanya seluruh orang yang ada di pasar! Kan capek!” Sahut Iky.
“Ya Allah(?)*Ngelus2Dada*. Terserah apa Lu kata deh!!
Mulut gue bisa berbusa lama2 kalo ngomong ama kalian berdua. Kagak ada tamatnya!!” Jelas Fakhry yang udah mulai kejang2.
“Eh, ngomong2, inimah kurang duitnya!! Gue kan naik taksi. Uangnya gak cukup, ah!” Komplain Iky.
“Aiissshh! Ke pasar ajja naik taksi! Ntu duit juga pas buat Lo berdua naik Angkot” Bales Fakhry
“Tambahin lagi dong duitnya!! Gue mau beli sesuatu nih!!” Sahut Lambok.
“Buat apaan? Ntu udah pas duitnya.” Jawab fakhry
“Buat beliin Alis obat pemutih badan” Celetuk Lambok.
“Hahahahaha!!!!!” Tawa LaKy Meledak sampe2 ngebangunin si Alis
Emil yang mendengar ucapan Lambok itu langsung ngelirik secara tajam setajam pensil yang habis diraut
ke arah Lambok. Tapi si Emil hanya diam saja. Walaupun sebenarnya di dalam hati dia pengen banget
tuh nguyel2 kepala Lambok. #Sabar ya bapak Emil!
LaKy yang melihat mata si Emil udah berapi2 itu langsung kabur menuju pintu keluar rumah..
“Eh! Tunggu!” teriak Fakhry
“Apa lagi?” Sahut Iky yang sudah berada di ambang pintu.
“Ini daftar belanjaanya. Lu kan kagak tau nama2 sembako!” Ucap Fakhry sambil menyulurkan kertas berisi
daftar belanjaan.
Iky berjalan menuju arah Fakhry dan mengambil daftar belanjaan yang dipegang Fakhry. Setelah berhasil
ngambil daftar belanjaan dari tangan Fakhry, Iky kemudian berlari secepat kecepatan cahaya kembali ke
arah Lambok. Takut kalo diamuk ama Emil.
Setelah itu, LaKy menuju halte bus untuk mencari
Angkot ke tujuan Pasar Minggu.  5 menit kemudian bis datang.
“Pasar minggu, Pasar minggu.....” Teriak sang kernet bis.
“Eh, ntu bisnya bang Yanto tujuan Pasar Minggu. Ayo
naik!.” Ucap si Lambok ke Iky. Si Lambok udah kenal sama ntu kernet bis yang bernama Yanto karena ntu kernet adalah temen main congklak si Lambok waktu dulu.
Lalu si LaKy naik ke bis tujuan Pasar minggu ntu dan duduk di kursi penumpang*yaiyalaah*.
“Ongkos,Ongkos..” Ucap bang Yanto sambil menarik uang ongkos dari penumpang yang baru naik.
Lalu bang Yanto nyamperin tuh LaKy.
Lambok yang mendengar itupun memiliki cara, agar dia tidak membayar ongkos..
“Ongkos,Ongkos..” Ucap bang Yanto.
“Eh, bang Yanto ya! Appha kabar bang!!” ucap si Lambok sok kenal. Padahal aslinya juga udah kenal ama
bang Yanto ntu. Cuma basa-basi ajja.
“Siapa ya?” tanya bang Yanto.
“Gue Lambok, bang!! Masa’ udah lupa sama gue. Gue ntu
yang dulunya sering main congklak ama elu! Yang paling
tinggi ntu lhoo!!” jelas Lambok
“Lambok?” Ucap bang Yanto.
“Iye..” jawab Lambok
“Lambok??”
“Iye bang!”
“Lambok??”
“Iye baaang! Udah ah.! Capek gue! Udah inget belom ama
gue?” ucap lambok kesal.
“Lambok? lambok yang suka main Barbie ntu kan?” tanya Yanto.
“Aiiissshhh!! Ntu kan si Mumun!”
“Oh!! Gue inget gue inget! Elu yang main congklak ama
gue waktu dulu ntu kan?” tanya Yanto.
“Gue udah bilang daritadi kelees!!-,-” ucap Lambok sewot.
“Mau kemana Lu? Tumben Lu naik bis! Biasanya juga naik becak.” Ujar Yanto.
“Mau ke pasar minggu ama temen gue.” Jawab Lambok.
“Elu punya temen selain gue juga ya?”
“Apaan sih Lo. -.-” sewot Lambok.
“Mana temen Lo?” tanya Yanto.
“Ini nihh. Kenalin. Namanya Iky.” Ujar Lambok ke Iky.
"Iky, kenalin. Ini namanya Yanto.” Ujar Lambok ke Iky.
“Gue juga udah kenal ama yanto kalee.” Jawab Iky sewot.
“Iye! Iky dulu kan ikutan kita main congklak juga!
Dasar Lu! Gue bekuin baru tau rasa
Lu*nyambungdarimanacoba??*” ujar Yanto.
“Oh, iye. Gue lupa.” Ujar Lambok sambil nyengir jerapah(?).
Tak terasa setelah mereka berbincang2, sampailah
merekaa di tujuan mereka. ‘Pasar Minggu’.
Dan tak-tik si Lambok berhasil!! Si Yanto lupa narikin duit ongkos ke dia karena keasikan ngobrol.
Mereka berkeliling pasar untuk mencari sembako yang disuruh sama Fakhry tadi.

Setelah berkeliling 3hari 3malem(-.-) mereka berdua belum juga nemuin toko yang ngejual sembako ntu. Lalu si Iky nanya ke salah satu penjual yang tokonya terletak di pojokan, yang di kenal dengan nama
Doni itu.
“Eh, bang. Boleh nanya gak?” tanya Iky.
“Nanya apa emang.?” Jawab si Doni.
“Toko yang jual sembako ntu di sebelah mana ya?”
“Oh. Elu lurus ajja, ntar belok kiri. Kalo ada toko ‘Maju Mundur’ elu belok ke kiri lagi. Trus ada toko yang
bernama ‘Murah Meriah’ elu belok kiri. Nah elu sampe’ deh di toko sembako. Tokonya bercat coklat. Letaknya di pojokan.” Jelas si Doni.
“Oh. Terima kasih bang kalo gitu.” Ujar Lambok.
Lalu si LaKy berjalan menuju ke arah yang di tujukan sama si Doni tadi. Dan sampailah mereka di toko yang dimaksud sama Doni tadi.
“Pemisi.!! Lah! Kok abang di sini?” tanya Iky.
“Ini kan toko gue!” jawab si empunya toko.
“Truss, tadi napa kok nyuruh kita2 muter2 belok kiri, belok kiri?” tanya Iky.
“Biar lu pusing aja. Gue liat dari gelagat lu. lu kayaknya orang yang baru pertama kali datang ke pasar
ini. Ternyata dugaan gue bener!! Pabo Lu!” ujar Doni bangga.
“Yaa ampuun.. sabar.. sabar..” ujar Lambok menengahi sambil ngelus2 punggung si Iky..
“Au ah! Nih! Gue mau belanja ini!” sewot Iky lalu menyerahkan daftar belanjaan.
Si Doni pun menerima daftar itu sambil nahan kentut (eh?). Nahan tawa maksudnya.
Setelah 15 menit. Si Doni menyerahkan belanjaan yang dipesen ke LaKy.
“Ini belanjaan Lu. Totalnya ada di daftar belanjaan bagian bawah.” Ujar Doni sambil menyerahkan daftar
belanjaan ke Iky.Lalu Iky menatap jumlah harganya.
“Mahal amat Bang. Kurang-kurangin lah!!” Ujar Iky.
“Kagak bisa!! Di sini, sembako kagak boleh di tawar. Lu gak liat papan ntu?” ujarnya sambil menunjukkan ke arah papan yang bertuliskan ‘DILARANG MENAWAR SEMBAKO DI SINI!!’
“Pengumuman apaan ntu? Kagak elit banget!! Tanggung jawab Lu bang! Karena lu tadi udah ngerjain kita.
Muter2 pasar. Ternyata eh ternyata tempatnya di sini. Kurangin harganya!” Ucap Iky panjang lebar.
Lambok hanya mengangguk2.
“Kagak bisa!!” Ujar Doni.
“Lu kok gitu sih bang. Gue cium baru tau
rasa lu!!” jelas Lambok lalu menunjukkan kekuatan Mahonya ke bang Doni.
“Hah? Apaan tuh? Jangan nodai toko gue!! Iye2 gue
kurangin harganya. Lu bayar ¾ dari jumlah harga ntu.”
“Kurangin lagi!” ujar Iky.
“Eh! Elu tuh ya! Masih bagus gue kurangin tuh harga!
Daripada gak sama sekali!!” Ancem Doni
“Elu kurangin ato gue nodai nih toko!” Lambok mengancam balik dengan menunjukkan api yang
berkobar2 dari tangannya
“Au ah!! Iye. Gue kurangin!!”
Setelah perdebatan hebat dengan pemilik toko sembako ntu tadi, akhirnya si LaKy mendapatkan potongan
harga. Yaitu ¼ dari jumlah harga belanjaan!!
*Bussetdaah!!hebatbener!*
Lalu, mereka berduapun keluar pasar.
Saat keluar pasar, banyak banget yang nawarin tumpangan. Dari tukang ojek, tukang becak, tukang odong-odong, dll.
“Mau naik ojek mas?” Tawar si tukang ojek 1 yang dikenal karena ketampanannya, Roby.
“Naik Ojek saya ajja mas. Murah lho!” Seru si tukang ojek 2 yang dikenal karena tampangnya yang sangar. Rendy.
“Becak saya ajja mas! Dijamin adem!” Ucap si tukang
becak yang dikenal karena wajahnya yang unyu2 cetar membahana. Fauzy.
“Naik odong-odong saya ajja mas. Dijamin mantebh!”
Ujar si tukang odong2 yang terkenal dengan nama Tegar.
“Emang kita apaan Lo suruh naik odong2. Ogah ah!” sewot Lambok.
“Iya! Masa’ orang yang paling unyu2 cetar membahana se antero jagat raya kaya’ gue Lo suruh naik odong2.
Ogah!” Kesal Iky.
“Yeee! Biasa aja kali mas! Kalo kagak mau naik ya udah!” Bales Tegar gak kalah sewot.
“Gimana kalo naik ojek aja mas?” tawar si tukang ojek 1, Roby.
“Gak. Kita mau naik bis aja. Biar murah!” ujar si Lambok lalu mengajak Iky pergi meninggalkan
para tukang ojek, tukang becak dan odong2 ntu.
“Kurang ajar ntu orang.!!” Ujar si tukang ojek 2, Rendy.

-Tibalah LaKy Di Rumah- 

“Eh bok. Lu bawa sembako ini ke dapur noh! Capek gue!” Ujar Iky.
“Enak aje Lu! Lu aja! Ogah gue!” Tanggep Lambok.
“Eh! Dimana2 tuh yang muda yang mengalah. Lu bawa ke dapur sana!”
“Bukannya yang lebih Cong yang mengalah?” bales Lambok.
“Kurang ajar Lu! Gue itemin pake sinar gue baru tau rasa Lu!!” bales Iky.
Si Alis yang mendengar kata ‘item’ itupun langsung menoleh ke arah LaKy yang sedang berdebat di
ambang pintu. “Apaan tuh. Ngomong item2 segala!!” sahut si Alis yang duduk di ruang tamu sambil ngeGame.
“Kagak! Lu salah denger kali!!” teriak Iky. Lalu melanjutkan perdebatannya dengan Lambok.
“Cepetan Lu bawa ke dapur nih sembako! Gue mau tidur.
Badan lu kan gede. Jadi lu kuat dong ngangkatin nih sembako!.”
“Kagak kuat gue!” bales Lambok
“Apaan. Badan doang gede. Tapi gak ada tenaganya. Cih!” sewot Lambok.
“Apa Lu bilang?” emosi Lambok.
“Badan doang gede. Tapi tenaganya gak ada!” ulang Iky.
Si Lambok yang udah emosi itu lalu mengacungkan jari telunjuknya, dan mulai memasukkan ke dalam
hidung*Jorok amat*. Iky yang mengerti akan maksud dan gelagat dari si Lambok itupun langsung lari
menuju kamar dan meninggalkan belanjaanya di depan pintu. Lambok pun tak tinggal diam. Dia mengejar si
Iky.
Si Iky yang merasa jijay karena tingkah Lambok itupun lari menuju kamar sambil berteriak dengan suara
10(?) oktafnya.
“Bapak Emiiiilll !!!! Lambok menggali Emaas!! Menggali Emass!!”teriak Iky.
Manusia-manusia(?) yang berada di dalam ruang tamu itu
menghentikan aktivitasnya. Si Emil yang meminum kopi sambil membaca koran. Si Alis yang asiik ngeGame.
Si Fakhry yang asiiik melihat demo masak mbak Heppy Salma di TV. Dan si Fajar yang Pesbukan.
Mereka semua menghentikan aktivitasnya karena teriakan dari Iky..
“Bapak Emiill.. Lambok menggali Emasss!” teriak Lambok sekali lagi.
Emil yang mendengar kata ‘Emas’ itupun langsung ikut
berlari ke arah LaKy yang berada di kamar. Dan Emil mulai masuk ke kamar LaKy.
Tak lama kemudian, Emil kembali ke ruang tamu. Dan menyeruput kopinya kembali sambil membaca koran..
“Mana Pa' emasnya??” tanya si Alis,Fajar,Fakhry kompak.
Emil diem aja. Nggak ngejawab pertanyaan ketiga anak manusia tersebut.
“Pa'!! Mana emasnya?” ulang si Alis mulai Kepo.
“Apaan sih!! Teriak2 aja dari pagi. Gak capek apa lu?” Jawab Emil sewot.
“Yeee! Kan nanya Pa'! Mana emasnya?” tanya Alis (lagi).
“Samperin sendiri noh si LaKy di kamarnya!” jawab Emil.
Fajar&Fakhry juga mendengar jawaban dari Emil.
Lalu, mereka ber3 pun menuju ke kamar LaKy untuk melihat hasil galian ‘emas’ si Lambok.
Tak memerlukan waktu lama, sekitar 30 detik kemudian, mereka keluar kamar LaKy dengan tampang masam (?)nya.
“Mana emasnya?” tanya Emil balik sambil menahan tawa.
“Nih emasnya!!” jawab Alis sambil mengacungkan jari
telunjuknya dan mulai untuk mengorek(?) hidung..
“Aaaaaaaaa!!! Kaboor!!!!” teriak Emil.

-END-

Lucky Stalker

“ The best gift for my birthday is your concern.”

Bagiku, dia special. Sangat special. Mungkin akan
berbeda jika dinilai oleh orang lain. Dia sangat tampan
sekali lagi ini menurutku. Dia keren – lagi-lagi ini
pendapatku dan kurasa yang lain juga berpikiran
seperti itu. Ya, karena dia memang tampan.
Berkarisma, sangat laki-laki, dan satu yang harus
digaris bawahi dan dicetak tebal! Dia adalah sosok yang
multi talent.
“ Fitria. Sampai kapan kau akan melihat Fajar seperti mayat hidup begini?” Sinta
menegurku pelan. Aku nyaris tak menoleh dari objek
pandanganku. Aku tahu, kami harus segera mengambil
buku di perpustakaan. Dan perjalanan kami terhenti
karena ulahku yang tidak bisa tidak melihat Fajar yang begitu mempesona di sana. Di atas permadani
hijau bergelut memperebutkan sebuah benda berkulit
bundar.
“ Fajar! Berjuanglah! Cetaklah gol sebanyak-
banyaknya!” aku berteriak keras sebelum menyeret
Sinta segera pergi bersamaku. Aku tidak ingin Fajar
tahu keberadaanku. Aku akan sangat malu jika dia
sampai mengetahui ini. Biarkan dia tidak tahu
perasaanku. Yang penting aku sudah berusaha
menunjukkannya sampai sejauh ini. Ah, cokelat yang
kutitipkan pada Fakhry sudah sampai ke tangan
Fakhry belum ya? Semoga saja dia tidak memakannya
sendiri. Kuhabisi dia jika memakan cokelat yang
kuberikan untuk Fajar ku. Itu kan cokelat mahal -_______-

Tweetku hari ini sedikit galau. Sudahlah. Teman-
temanku tidak ada satu pun yang ingat ini hari ulang
tahunku. Bagaimana bisa? Padahal aku selalu mengingat
tanggal lahir mereka. Tega sekali mereka melupakan
hari bersejarahku. Mereka pasti sengaja melupakan.
Bukan lupa tetapi melupakan. Astaga, sakit sekali
rasanya.
Kalian tahu? Hari ini Fajar membuat tweet
apa?

Check this out!
@Fajar_Gaje Look at that goal! Liverpool!!! 

Tweet yang diperbaharui dua menit sebelum tweet
galauku. Dia sedang online dan aku selalu ingin
bermention ria dengannya. Apa daya tangan tak sampai.
Aku akan mati kutu saat berpapasan dengannya jika
aku sok akrab di dunia maya sementara di dunia nyata
aku selalu merasa jiwa raga ini beku acap kali
memandang wajahnya. Oh betapa hiperbolisnya diriku
ini.
Ya Tuhan, aku mengagumi makhluk-Mu itu. Bahkan aku
banyak tahu soal dia. Aku tahu makanan favorite nya
adalah Durian. Minuman favorit nya adalah Bubble
tea rasa taro. Dia sangat membenci wortel. Tim sepak
bola favorit nya adalah Liverpool. Kupikir aku memiliki
terlalu banyak tentangnya. Dan mungkin yang dia tidak
tahu malah aku yang tahu. Seperti rasa ini. Aku sangat
tahu dan dia sama sekali tidak tahu. Sejauh ini,
hubungan kami hanya sebatas Senior – Junior…

@sintahz Tolong @Fajar_Gaje ucapkan selamat ulang tahun
untuk @fitriawww

Astaga! S-Sinta? Apa-apaan dia? k-kenapa dia me-
retweet statusku dan menyebut (mention) Fajar?
Itu artinya dia tidak lupa jika ini hari ulang tahunku?
Astaga Sinta! Awas kau! Astaga, Bagaimana ini? Kenapa
dadaku seperti ingin meledak? Telapak tanganku jadi
basah dan dingin. Aku benar-benar tidak membayangkan
apa respon Fajar atas ini. Aku malu
sekali!!!!!!!!!!!!!

@fakhrychipp
@sintahz Tolong @Fajar_Gaje ucapkan selamat ulang tahun untuk @fitriawww

@@ryantomb
@sintahz Tolong @Fajar_Gaje ucapkan selamat ulang tahun untuk @fitriawww

@emillio_putra
@sintahz Tolong @Fajar_Gaje ucapkan selamat ulang tahun untuk @fitriawww

@yodhaprananda
@sintahz Tolong @Fajar_Gaje ucapkan selamat ulang tahun untuk @fitriawww

@lulunabyila
@sintahz Tolong @Kim_JonggIn14 ucapkanselamat ulang tahun untuk @fitriaww

@dhikafebryna
@sintahz Tolong @Kim_JonggIn14 ucapkanselamat ulang tahun untuk @fitiriawww

@akirafc
@sintahz Tolong @Fajar_Gaje ucapkan selamat ulang tahun untuk @fitriawww

@rizkykoku1
@sintahzTolong @Fajar_Gaje ucapkan selamat ulang tahun untuk @fitriawww

Astaga? Ke-kenapa mereka me-retweet-nya???? Kolom
mention ku tiba-tiba dibombardir oleh seratus lebih
buah karya retweet an Sinta. Gila! Ini gila! Jantungku
semakin tidak karuan. Aku harap Fajar tidak
melihatnya.

@Fajar_Gaje Selamat Ulang Tahun @fitriawww God bless you. 
 Haruskah aku memberi hadiah juga?@sintahz

Nafasku benar-benar tidak teratur sekarang. Aku
shock! Shock berat. memention ku.
Apakah ini mimpi? Kucubit pipiku dan sakit. Aw, ini
bukan mimpi. Astaga, sesak sekali rasanya untuk
bernafas. Aku butuh asupan oksigen. Aku kehabisan
oksigen. Ibu! Ayah! Tolong anakmu ini! Oksigen! Aku
butuh oksigen! Apa yang harus kulakukan sekarang? A-
aku tidak mungkin membalas tweet nya. Kenapa
pandanganku kabur? Kenapa? Kenapa?
Saking senangnya, Fitria pun pingsan sebelum sempat
membalas tweet Fajar. Teman-teman Fitria sengaja
membuat kejutan di hari ulang tahun Fitria. Teman-
teman Fitria semua tahu jika Fitria sangat menyukai
Mahasiswa tahun keempat STP Trisakti
bernama Fajar itu. Fitria pun menghabiskan
banyak waktu untuk menjadi STALKER demi mendapat
lebih banyak informasi tentang pemuda tampan itu.
Teman-teman Fitri sangat mendukung Fitri yang
begitu mengidolakan Fajar. Sehingga tepat hari ini,
21 Oktober 2013, Fitria mendapatkan apa yang ia
inginkan di hari ulang tahunnya. Yes! Concern from Fajar. Karena,

"The best gift for her birthday is Fajar's concern"
Sepeninggal Fitria yang tiba-tiba tak sadarkan diri,
Sinta dan Fajar saling mention.

@sintahz Kurasa ucapan selamat ulang tahun sudah lebih dari
cukup @Fajar_Gaje Terima Kasih ya ^^ 

@Fajar_Gaje Gadis ini @fitriawww temanmu? @sintahz

@sintahz Iya. Dia sangat menyukaimu @Fajar_Gaje 

@Fajar_Gaje Menyukaiku? Apa kalian adik kelas ku? @sintahz

@sintahz Benar sekali! @Fajar_Gaje

Kamis, 20 September 2012

PK2MB INDOOR STP TRISAKTI 2012


STP TRISAKTI  menerima pendaftaran  siswa  baru  tahun ajaran 2012-2013 Sebelum  Masehi.
Bapak Djoko Soedibyo Ketua Yayasan STP Trisakti, hari ini tepat tanggal 32 bulan 13 mengumumkan bahwa Masa Orientasi Mahaiswa atau yang biasa di sebut ospek akan dimulai.

Jessica, Fakhry, Fajar, Lulu dan Namira masuk ke kelas
Diknas Hotel  yang dipandu oleh kakak kelas mereka Ka’ Bayu, Ka’ Vicky, Ka’ Adit dan Ka’ Johan.
---->

Ka’ Bayu: PERHATIAN!!!! *sambil mendobrak pintu kelas*

Lulu: temen-temen ada setan *sambil berbisik ke Jessica, Fakhry, Fajar dan Namira *

Ka’ Bayu: Ospek dimulai besok!! *nada gertakan*

Ka’ Johan: Benar!!
Ka’ Bayu: Kalian harus mendengarkan apa saja yang harus kalian bawa untuk besok!! *masih gertakan*

Ka’ Johan: benar!!

Ka’ Bayu: pemberitahuan tersebut akan dibacakan oleh ka’ adit!!! Dengarkan baik-baik!!

Ka’ Johan: benar!!

Ka’ Bayu: sebentar deh, lo ngapain sih ndong cuma bilang “benar!! benar!!” aja dari tadi. Ga ada kata lain?!!

Ka’ Johan: benar!!

Ka’ Bayu: serah lo!! Kak Adit silahkan bacakan pemberitahuannya Kak.

Ka’ Adit: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semua serentak: walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

---->

Ka’ Adit: Puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, kita bisa berkumpul ditempat ini….

Fajar: sebentar QaQa, maaf, ini mau bacain pemberitahuan atau mau khotbah solat jum’at? *nada imut*

Kemudian hening sejenak

Ka’ Adit: oh iya mohon maaf salah acara
#Ka’Aditalim

Ka’ Vicky: ka adit, daripada kelamaan mending aku yg bacain aja kak *nada kesel*

Ka’ Johan: benar!!

Ka’ Adit: oh silahkan..

Ka’ Vicky: pemberitahuan PK2MB!!

1. Besok jam 7.15 pagi harus sudah ada di kelas ini!!

2. Rambut di kuncir dua untuk perempuan. Dan pakai kerudung untuk laki-laki.

Fajar: maaf ka, kok yg laki-laki pake kerudung?

Ka’ Vicky: oh iya salah maaf. Yang ke-2, Rambut di kuncir dua untuk perempuan. Dan poni kangen band untuk laki-laki.

3. Pakai kalung sebagai hiasan dari galon aqua

Lulu nyeletuk: buset itu hiasan apa siksaan? -_-

4. Sepatu warna Ungu polkadot, dan

5. Buku tulis dengan sampul majalah Gaul edisi Julia Perez!!

Dasar -_-

---->

Apa ada yg ingin ditanyakan? *teriak Ka’ Vicky *

Fajar: thaya kak *nunjuk tangan*

Ka’ Bayu: iya kamu, kamu cadel ya?

Fajar: iya kak, saya ga bisa nyebut huruf “S” jadi setiap huruf “S” berubah “th”.
Ka’ Bayu: itu tadi bisa -_-

Fajar: a matha thih? Keceplothan kali kak.

Ka’ Bayu: yaudah apa pertanyaan kamu? Jangan banyak ceramah disini!! *bentak*

Fajar: ga jadi ka, thaya thudah ngerti kok.

GUBRAK!!

Ka’ Adit: yang lain ada yg ingin ditanyakan?

Jessica: kak, kalo cewek kan di kuncir dua, yag cowok di poni kangen band. Kalo Lulu gimana ka?

Lulu: Jessica!!!! Apaan sih maksud lo!! *nutup mulut Jessica*

Ka’ Adit: hah?

Lulu: engga ka, dia nanya di kuncir dua-nya pake pita merah atau biru? *ngeles lulu yg masih nutupin mulut Jessica* *Jessica kebauan*

Ka’ Adit: oh warna pita bebas. Ada yg ingin ditanyain lagi?

Namira: saya kak

Ka’ Adit: iya mau Tanya apa?

Namira: kenapa sih kakak ganteng banget? *aegyo* *o*

GUBRAK!!

Ka’ Bayu: oke skip pertanyaan ga penting tadi!! Sekarang kalian boleh pulang. Ingat besok adalah agenda PK2MB kalian!!

Ka’ Vicky: oke kalian boleh bubar

Ka’ Johan: benar!!

Akhirnya Jessica, Fakhry, Fajar  Lulu dan Namira pun keluar kelas.



--->



Diluar kelas, Fakhry, Namira dan Fajar masih ngerumpi, karna rumah mereka searah. Jadi mereka ngerumpi diperjalanan.

Fakhry: Namira gue bingung nih, Rambut poni kangen band gimana :(

Namira: sama, kalung dari galon aqua? Nanti malah gedean galonnya daripada aku :(

Fajar: therus thepatu ungu polkadot thama thampul buku dari majalah gaul edithi jupe juga nyari dimana? :( *curhat Sehun tetep sama
aksen cadelnya*

Fakhry: yaudah selamat berpusing ria deh ya. Sampe ketemu besok. Bye~~

Mereka semua bingung sama persiapan ospek Besok.


--->

Keesokan harinya

Rambut Fakhry sama Fajar bener-bener diponi ala kangen band -_- cuma mereka jauh lebih kece.

Namira, Lulu sama Jessica keliatan banget kayak gadis-gadis desa yang biasa dikuncir dua.

Fakhry, Namira sama Fajar udah di kelas, tapi kayaknya Jessica sama Lulu belum keliatan.
Ka’ Bayu: Hey!!! Mana dua teman kalian yg lain!!! *gertak ala senior*

Namira: aku ga tau kak

Ka’ Bayu: kalian tau ini hampir jam 7.15!! kalo mereka belum datang sampe hitungan ke tiga, kalian semua kena hukuman!!!! Satu.. dua…

Jessica: stop!! stop!! stop!!

Jessica sama Lulu lari ke arah Ka’ Bayu sambil ngos-ngosan, mungkin mereka lari maraton karena sadar mereka bakal datang ga tepat waktu.

Ka’ Vicky: Kenapa kalian telat!!!!

Lulu: telat? Engga ko, kemaren baru aja saya dapet kak. Ini sekarang aja pake kotex.

Ka’ Adit: astagfirullah bukan telat yg itu yg dimaksud -_-

Ka’ Bayu: oke stop!! dari pada ngulur waktu, kita semua mau cek atribut dan perlengkapan kalian!!

Ka’ Johan: benar!!

Ka’ Vicky: yang pertama Kalung!! Mana kalung galon aqua kalian?!

Fakhry: ini kak *nunjukin foto*

Ka’ Vicky: loh kenapa foto?

Fakhry: kalo kalungnya dari galon aqua kan berat banget kak, akhirnya kita ber-5 sepakat buat mem-foto galon aqua itu dan fotonya kita jadiin kalung ^^

Namira: Hore kita kreatif!!!

“….”

Ka’ Adit: iya juga sih ya -_-

----->

Ka’ Vicky: yaudah terserah deh. Selanjutnya Rambut!! Rambut di kuncir dua untuk perempuan. Dan poni kangen band untuk laki-laki!! *cek rambut peserta*

Ka’ Bayu: Kamu!! *nunjuk Lulu *

Lulu: saya?

Ka’ Bayu: iya kamu!!! KENAPA RAMBUT KAMU GA DIKUNCIR DUA KAYA YANG LAIN!!!!
Lulu: Anjir biasa aja dong lo!! Rambut gue pendek!! Gimana mau di kuncir, dijambak aja butuh usaha. Masih mending gue inisiatif pake jilbab ini. Banyak bacot lo!!

Ka’ Adit: Subhanallah, stop. Lulu kamu harus lebih lembut sama kita, ingat kamu kan berjilbab sekarang.

Ka’ Bayu: Kak adit, lo gimana sih ka!! Kita ini panitia ospek jangan lemah gitu ka!! Lulu!! Kamu dihukum bersihin bulu ketek saya pulang sekolah!!

Lulu: iuhhh kamseupay!! Oke iya -_-

Lulu pun kena hukuman yang super unik itu -_-

Ka’ Vicky: sekarang sepatu, kalian semua pake sepatu ungu polkadot kan?

Fakhry: pake kak

Fajar: thama aku juga pake

Jessica: nih kak aku udah pake

Lulu: kalo sepatu gue betul kan ini ungu polkadot

Ka’ Vicky: oke udah betul, kamu!! *nunjuk
 namira*

Namira: iya kak.

Ka’ Vicky: kenapa sepatu kamu ungu biasa?!

Namira: aku ga punya sepatu polkadot ka. Cuma ada sepatu ungu aja. Tapi aku pake beha motif polkadot kok ka. Sama aja kan?

Ka’ Bayu: errrr!!! Sarap!! -_-

Namira: BEHAhahahaha

Ka’ Adit: -_- yaudah kita ke kelas semuanya.

Akhirnya mereka semua menuju kelas, setelah hampir 1 jam di depan gerbang S

Ka’ Vicky: oke keluarin buku kalian.

Ka’ Bayu: masih ingat kan sampul buku kalian apa?

Fakhry: MAJALAH GAUL EDISI JULIA PEREZ, KAK!! *jawab Fakhry semangat 45*

Buset gue ga nyangka Fakhry yadong juga -_-

---->

Ka’ Adit: yang sampulnya Sulis dan Hadad Alwi ada?

Ka’ Bayu: tetep alimnya adit~ -_- ga ada lah ka!! Kumpulin buku kalian!!

Semua peserta pun ngumpulin buku mereka.

Ka’ Johan: ini buku siapa? *liat nama di sampul* F.A.J.A.R *di eja ala Rapper*
Fajar: itu buku thaya kak.

Ka’ Bayu: sini kamu!!!

Fajar dipanggil kedepan kelas. Pasti ada masalah lagi. Kenapa sih peserta ini ga ada yg bener? -_- selalu buat kesalahan.

Ka’ Bayu: Saya mau tanya!!! Kenapa sampul buku kamu bukan edisi Julia perrez!!!!

Fajar: maaf
 ka. Tapi kemarin saya ke tuang majalah, katanya gaul edisi jupe habis. Laku banget ka ternyata. Besok-besok saya dagang majalah aja kali ya ka. Lumayan kan buat nambah-nambah uang jajan. *malah curhat* -_-

Ka’ Bayu: ngapain kamu curhat disini!! Saya ga mau
 tau kamu  juga dapet hukuman!!

Fajar: tapi ka, itu kan sampul saya Dewi Persik. 11:12 lah ka sama Jupe.

Fajarprotes sampe dia lupa dia dari tadi ga cadel -_-

Ka’ Vicky: tetep beda!! Masih GEDEAN JUPE!!

Ka’ Vicky nyeletuk dan seketika kelas hening “…”

Ka’ Bayu: Fajar!! Kamu saya hukum.

Fajar: apa kak hukumannya?

Ka’ Bayu: ganti avatar twitter saya!!

Fajar: gubrak!!! *dalam hati: bilang aja lo ga bisa ganti sendiri -_-* iya ka siap!!

Akhirnya mereka semua mulai di ospek sama senior mereka Ka’ Adit, Kyuhyun, Ka’ Vicky dan Ka’ Johan.
Mereka semua di kerjain abis-abisan sampe Jessica capek dan ketiduran -_- Beha Lulu mulai longgar dan sampe Fakhry numbuh abs-nya. Suer ospek ini kejam bgt!! Gimana bisa Fakhry sampe jadi sixpack gitu. Mana poni  Namira dipotong ala miring-miring gak penting. -_-
Setelah 5 jam berlalu. Akhirnya agenda PK2MB hari ini selesai.

Ka’ Adit: Alhamdulillah PK2MB hari ini selesai.

Ka’ Bayu: yap!! Besok adalah hari terakhir kalian PK2MB INDOOR!! Perhatikan apa saja perlengkapan yg harus kalian bawa besok!!!


Ka’ Vicky: Besok kalian harus membawa

Oriza Sativa
Sayur Sabun
Sponge bob bobo pake guling di pasir
Pisang 1 sisir
Minuman jeruk penggoda
Coklat Marshanda dan
ChikiBall 2 Taro 1!!

Kalian pecahkan teka-teki itu. Ingat ada tujuh icon yang harus kalian bawa!!

Jessica: 7 icon? Gak gak gak kuat~~ *mendadak nyanyi* -_-

Ka’ Adit: dan sekarang kalian boleh bubar.

Ka’ Johan: benar!!

Akhirnya mereka semua pulang. Jessica, Amber, Namira, Fakhry dan Fajar pulang dengan 7 teka-teki yg harus mereka pecahkan.


-----------------------------------------------------

Lulu : eh guys, kita kumpul di rumah gue yuk buat pecahin teka teki ospek kita. Sore ini jam 4 ya gue tunggu di rumah gue. Rumah gue di Kampung Bojong Jengkol, Tanya aja rumah Lulu sama orang-orang pasti pada tau. Rumah gue yg paling gede, pagernya dari emas, dan catnya warna pelangi asli dari Eropa.

Namira: buset lo mau ngajak ngumpul apa pamer? -_-

Lulu: berisik nih sarang tawon!! Udah ikutin peraturan gue aja.

Namira: bisa aja Mitha The Virgin!! * Namira ngebales*

Lulu: -_-

# Namira BalasDendam

# Namira MoveOn

#Akhirnya Namira Berani

#Chukkae Namira

Fajar: yaudah sampe ketemu di rumah Lulu ya temen-temen

Jessica: oke bye

Fakhry: bye~~

~~ Mereka ber-5 udah kumpul di rumah Lulu sekarang. Dan suasana di rumah Lulu..

Lulu: oke kalian silahkan duduk di sofa super mahal gue ini ya.

Fajar: mahalnya ga usah disebut juga
lu  -_-

Lulu: masalah buat lo?!! Hahaha
Fajar: sarap!! Wkwk

Lulu: yaudah mau pada minum apaan? Dirumah gue ga ada air putih sama teh tubruk ya. Cuma ada Passion fruit juice sama Sirup asli New Zealand.

Namira: anjir sombong abis!!! Wkwk

Fakhry: apa aja serah lo Lu!!

Jessica: iya apa aja deh terserah.

Lulu pun nyuruh Bi Sarinem sama Bi Saodah -pembantunya- buat ambil minuman.

Fajar: eh ada yg nyatet apa aja hyg harus dibawa besok ga tadi?

Jessica: ini aku nyatet.

1. Oriza Sativa

Fakhry: oriza sativa apaan sih? Gue taunya cuma maria ozawa.

Namira: gubrak!! Yadong juga ya ih ga nyangka wkwk.

Jessica: Oriza Sativa itu nama ilmiahnya Nasi deh setau aku. Berarti kita harus bawa nasi.

Lulu: terus yang ke-2?

Jessica: sebentar, oh yang ke
 

2. Sayur Sabun

Fajar: buset itu sayur siapa yang mau makan? -_-

Fakhry: sabun apa? Giv? Lifebouy? Apa sabun Lux?

Jessica: bukan itu maksudnya -_- ini kan teka-teki.

Lulu:
Fajar sama Fakhry, bego lo berdua tingkat akut ya!! Wkwk

Fajar: damn!

Fakhry: its true

Ngapa jadi akun twitter dah? Wkwk

Jessica: lanjut, Sabun kan bahasa inggrisnya “Soap”. Jadi mungkin yg dimaksud sayur sabun itu sayur sop.

Namira: oh gitu toh. Ih Jessica eonnie pinter banget ya. Envy *aegyo*

Lulu: Ya ampun, itu panitia bilang sayur sop aja ribet amat sih!! Lu juga Namira!! Ga usah aegyo, jatohnya jadi kayak orang ngeden nahan boker!! -_-

Fajar: -_- lanjut yg ketiga.

Jessica: yang ke


3. Sponge bob bobo pake guling di pasir

Fajar: ngapain tuh si spongebob bobo di pasir, kayak ga punya rumah aja -_-

Fakhry: iya tuh, spongebob apa gembel? Tidur dipasir segala -_-

Lulu: aduh Fajar, Fakhry lo berdua diem deh ya!! Otak lo ga nyampe buat mecahin teka-teki ini. Yang ada lo berdua mecahin kepala gue -_-

Namira: wkwkwk!! Mungkin maksud “Sponge bob bobo pake guling di pasir” itu “tahu sama sosis pake nasi putih”.

Jessica: tepat!!

Lulu: Wah Namira, kok lo tau sih. Otak lu jalan juga? Gue kira mandet.

Namira: -_- udah lanjut Jessica eonnie yg ke empat apa?

Jessica: haha. yang ke

4. Pisang 1 sisir

Lulu: yah itu mah gampang, nanti biar bi Saodah beli di supermarket. Lanjut yg ke lima.

Jessica: yang ke


5. Minuman jeruk penggoda

Fajar: idih genit banget tuh jeruk!! Kamseupay!!

Fakhry: haha anjir jeruk apa jupe tuh? Suka ngegoda wkwk. Lagian siapa yg di goda jeruk itu coba haha.

Lulu: Fajar, Fakhry, sekali lagi lo ngomong, gue lempar beha!!

Fajar dan Fakhry: -_-

Namira: minuman jeruk penggoda? Apaan? You C1000? Mizone? Pulpy Orange? Jas Jus? Marimas? Nutrisari?

Lulu: buset, semua aja lo sebutin Ra. Lo dagang? -_-

Jessica: nah itu!! Marimas!!

Lulu: kok Marimas?

Jessica: iya, kalo dipisah, Marimas itu jadi semacam ajakan “Mari…. Mas” *nada mendesah*

Fakhry: anjir Jessica bikin yadong woy!!

Fajar: ERTE!!

Lulu: ah berisik lo berdua!! Ya ampun Marimas aja ribet banget tuh si setan Ka’ Bayu!!

Namira: namira pinter kan *aegyo*

Lulu: ga usah bangga ra!! Lanjut yg ke enam apa? Ini lama banget suer. Udah kaya rapat DPR -_-

Jessica: sabar, tinggal 2 item lagi nih. Minum aja dulu sirup asli New Zealand nya *nada nyindir*

Lulu: -_-



Jessica: bercanda Lu, oke yang ke
6. Coklat Marshanda

Fakhry: Apaan lagi tuh?

Fajar: sejak kapan Marshanda dagang coklat? Wkwk
Jessica: ga tau nih, yg ini susah.

Lulu: yaudah lah kalo susah, kita beli silver queen aja, kita cetak foto marshanda. Siapa tau panitianya nge-fans sama Marshanda, sampe disuruh bawa coklat Marshanda -_-

Namira: bener tuh kata Lulu!!

Jessica: oh yaudah kalo gitu coklat sama foto Marshanda ya.

Jessica: haha yang terakhir nih, yang ke


7. ChikiBall 2 Taro 1

Lulu: itu mah gampang biar nanti sekalian bi Saodah beli Chiki Ball sama chiki Taro nya di supermarket.

Namira: udah nih? Udah kan? Pulang deh yuk, capek gue kumpul kayak meeting anggota ASEAN gini -_-

Lulu: yaudah besok pagi semua perlengkapan kalian biar Bi Sarinem sama Bi Saodah yg siapin. Pokoknya kita terima beres.

Namira: majikan laknat!! Wkwk

Jessica: yaudah jadi daftarnya aku catet duu, biar Bi Sarinem sama Bi Saodah ga bingung.

Nasi putih
Sayur Sop
Tahu sama sosis pake nasi
Pisang 1 sisir
Marimas
Coklat silver queen sama foto Marshanda
ChikiBall 10 sama chiki Taro 5.

Kasih tau Bi Sarinem sama Bi Saodah
 ya lulu, semuanya di siapin buat 5 orang. Kita kan ber-5.

Lulu: oke siap!! *nada nge-bass*

Fahry: yaudah ayo pulang yuk. Gue mau main dota nih.

Fakhry: sama, gue juga ada les harpa
Namira: -_-

Jessica: oke, ayo pulang.
Lulu, kita pamit ya. Makasih buat tumpangannya.

Lulu: oke bubye~~~

Namira: bye~~

Setelah ngejalanin rapat panjang, akhirnya mereka memutuskan buat pulang istirahat dan nunggu besok.

_---------------------------------------------------------------------------------------------------------------_


Benar ku mencintaimu~ tapi tak begini~~~

Fajar: suara apaan tuh?

Fakhry: itu bel sekolah, beha!! Ayo kita masuk, telat dikit ntar kita dihukum.

Buset bel sekolah apa ringtone emak-emak? Lagu anang gitu -_-

~~

Di kelas….

Ka’ Bayu: guten morgen semua!!

Namira: guten bisma~

Lulu: guten Rafael~
Fajar: guten bisma!!

Fakhry: you know me so well~~

Seketika hening sejenak.

Ka’ Vicky: sekarang tunjukan pelengkapan yang sudah kita infokan kemarin.

1. Oriza Sativa

Ka’ Vicky: apa yang kalian bawa?

Namira: Nasi putih kak!!

Ka’ Adit: tepat!!

Ka’ Vicky yang ke

2. Sayur Sabun

Ka’ Vicky: apa yang kalian bawa?

Jessica: sayur sop, ka.

Ka’ Bayu: betul!

Ka’ Vicky: nah yang ke

3. Spongebob bobo pake guling di pasir

Ka’ Vicky: apa yang kalian bawa?

Lulu: Nasi putih pake tahu dan sosis!!

Ka’ Johan: benar!!

Ka’ Vicky: kok kalian pinter sih? -_- Coba yang ke

4. Pisang 1 sisir

Ka’ Vicky: ini kak *nyodorin pisang 1 sisir*

Ka’ Bayu: salah!!! Maksud kami itu Pisang sama 1 sisir, 1 sisir rambut!! Kalian dihukum!! Hukumannya: Mention justinbieber untuk follback akun saya!!


Ka’ Vicky: oke yang ke

5. Minuman jeruk penggoda

Jessica: Mari….mas~~ *nada mendesah*

Ka’ Bayu: oh mari-mari, ayo kita ke kamar!!
Namira: woooo!!! Yadong lo!!

Ka’ Bayu: -_-

Ka’ Vicky: betul!! Sekarang yang ke

6. Coklat Marshanda

Lulu: ini ka, ini coklatnya, ini foto Marshanda nya. Maaf ka kita dapet foto Marshanda nya pake jilbab, ga ada yg yadong :(

Ka’ Vicky: -_- kalian salah!!!

Ka’ Bayu: maksud dari Coklat Marshanda itu adalah Coklat Cha-cha!! Karena Marshanda nama panggilannya itu cha-cha!!

Namira: GUBRAK!!!!

Hening sejenak.

Ka’ Adit: kalian saya hukum, hafalkan surat yasin dan artinya!!

Fakhry: Oh God!!! Bisa botak sariawan gue kalo
ospek  kayak gini terus >.<

Ka’ Vicky: yang terakhir

7. ChikiBall 2 Taro 1!!

Fajar: ini kak, saya bawa chiki ball 2 sama chiki taro 1. Kita ngemil berdua yuk kak #modus

Ka’ Bayu: Salah!!!! Maksud kami itu Chiki Ball 2, di taro 1!! Jadi yg kalian bawa hanya Chiki Ball aja 1!!!

Ka’ Johan: kalian di hukum lagi!!! Saya gak mau tau caranya gimana, yang pasti kalian harus buat saya keliatan langsing!!!

Lulu: anjir!!! Itu sih mustahil -_-

Fakhry: gampang Lu, pake photoshop aja

Namira: Fakhry please deh -_-

Mereka ga sadar mereka semua keliatan kayak orang sarap. Akhirnya Ospek hari itu selesai. 5 murid ini mention justinbieber di twitter pake hashtag #followbackbieber sampe akun mereka limit dan di suspend pihak twitter.
Mereka juga mati-matian nge-hafal surat yasin sama artinya, tapi mereka cuma hafal ayat pertama, yaitu “yasin~~”.
Mereka juga mati-matian ngedit foto Ka’ Johan biar keliatan langsing, yang akhirnya ditimpah pake body cinta laura -__-
Kehidupan mereka suram. Ospek memberikan mereka pengalaman dan pengetahuan bahwa hidup itu gak mudah, makanya jangan mempersulit diri sendiri.
Jessica, Lulu, Namira, Fakhry dan Sehun kini sudah resmi menjadi murid STP TRISAKTI. Kostum mereka pun setiap hari seperti pegawai Gramedia.

Nantikan
 penerimaan murid di tahun berikutnya.


END